Who Will Win in Anger ?

There’s no winner in (Family) Battle of Anger. Everyone is a losser

Dulu, ketika masuk dalam tim debat sebagai anggota abal-abal, memenangkan sesuatu topik debat adalah sebuah kebanggaan. Menang adalah sebuah keharusan, saat itu. Yah, namanya juga lomba.

Sekarang, di dalam keluarga, lomba itu rupanya bukan lagi dalam individu. Keluarga dihitung menjadi 1 tim. Begitu awal muasal kisahnya….

Meskipun awal muasal landasana keluarga seperti itu, terkadang berdebat intern tim pun masih sering terjadi. Ingin menang sendiri juga muncul sana sini. 

Melihat dalam diri saja, ketika ada pandangan yang berbeda, aura yang muncul adalah aura untuk mengedepankan kebenaran pandanganku. Begitu pun bunda punya pandangan benarnya sendiri. Padahal, jika dilihat lebih dalam, inti dari berpendapat ini adalah : supaya Ignas mau makan dengan baik. 

Harapannya baik tapi kok yang rame orang tuanya???

Berarti benar juga yang diocehkan orang orang sebelum Aku : setelah ada anak, maka akan dimulai lagi pertengkaran.

Aah… rasanya terlalu berlebihan jika diungkapkan dengan kata : pertengkaran. Lebih mirip seperti : adu mulut. Cup cup cup…

Di sini Aku melihat peluang. Setelah sebelumnya kami belajar untuk cuap cuap dalam kondisi “berdua”, sekarang saatnya ber-cuap cuap dalam kondisi “keluarga”.

Waktunya sudah tidak longgar lagi, kegiatan sudah bertambah, si Ignas juga bisa merasakan aura nya. Waaahh… lumayan….

Beeing Old

Being old is a nature…

Apa pula yang Ignas, anak kami, pikirkan ketika menanyakan : Ayah sudah tua? Tanganku yang sedang merapikan baju kuning TK nya masih saja bergerak, sambil berkata : iya lah Ayah sudah tua.

Bukannya berhenti berkata-kata, Ignas malah berteriak : GAK BOLEH! Ayah gak boleh tua!

Loh??!

Aku membalas dengan tawa ringan, lalu bergegas mengantar ke sekolah. Rasanya tawa itu masih lengket sampai-sampai berpikir : apa sih makna TUA bagi Ignas?

Lebih lagi, apa sih makna tua bagi Aku ?

Jika barangkali Ignas beranggapan semakin tua Aku menjadi semakin sering marah, atau makin berkurang usiaku berkurang juga waktu bermain, maka tua yang Ignas katakan kemungkinan besar terjadi, hahaha.

Semakin mengingat saat kecil dulu, ketika ingin sekali untuk cepat besar supaya bisa bermain ke mana saja tanpa halangan, nonton TV sampai tengah malam, dan segala yang tabu2 bagi anak kecil – semakin melihat ada yang berubah dari gambaran sebelumnya. Semakin bertambah usia, semakin keingin2 itu berkurang. Hidup justru semakin digerakan lebih teratur dan disiplin. Bukan hanya bagi diri ssendiri tetapi menjadi contoh bagi anak dan keluarga juga.

Ingat lo ya, sudah ada anak istri sekarang. Ketika dulu..yang ingusnya masih sering meler tu… mana ada rencana untuk punya pasangan/istri. Apalagi bermimpi bisa “menghasilkan” anak kecil. Ya iya, tidak sampai pikiranku menghayalkan diriku yang anak kecil punya anak kecil. Pikiran itu baru muncul setelah ketemu kamu… iya kamuuu…

Karena menjadi tua adalah kepastian, maka menjadi dewasa adalah pilihan – kata sahabat bijak sebelum Aku. Maka, menjadi tua dan menjadi bijak adalah kiblat dalam diriku.

Sadarlah kau..haii…sadarlah..

Zung zung zung #elus elus ketiak

Stormy Day

Bukan hari yang cerah, namun kemampuan menghadapi badai yang kuminta.

Membayangkan keinginan supaya menjadi hal yang nyata adalah tindakan yang mudah. Namun, ketika berhadapan dengan realita, akan muncul satu – dua – bahkan banyak kejadian yang diluar perkiraan. Ketika harapan dan kenyataan tidak linear, makan kekecewaan muncul.

Kekecewaan bagaikan benih yang muncul dari balik tanah perasaan ketika disiram halangan dalam hidup. Lebih mudah menumbuhkan benih kekecewaan dibandingkan menumbuhkan benih semangat dan perjuangan.

Begitulah perasaan itu muncul dalam diriku saat ini ketika ada halangan untuk melanjutkan sekolah. Kekecewaan tidak saja tumbuh sendirian. Alang alang ini muncul bersamaan dengan perasaan menyalahkan orang lain, amarah, dan segala perasaan dingin. Sebagai suatu ekosistem, diriku sedang dilanda badai di musim dingin. 

Uniknya dalam hidup, badai tidak datang hanya satu kali untuk selamanya. Atau, tidak ada kekebalan dalam diri ketika menghadapi badai-badai dalam hidup. Tidak seperti penyakit cacar. 

Aku sudah menghadapi beberapa badai dalam hidup. Itu tidak membuat diriku kebal terhadap badai. Selalu ada pikiran yang porak poranda. Yang membedakan adalah kemampuan untuk bertahan dan berjuang kembali. Setiap kali Aku selamat dari badai kehidupan, semakin tumbuh rasa syukur dan kagum pada TUHAN. Sungguh, Aku dan keluargaku diberkati olehNya.

Begitupun dalam badai untuk melanjutkan sekolah kali ini, Aku (kami) akan bertahan dan berjuang. Ada harapan di depan sana. Ada tangan TUHAN yang akan membimbing.

Ketika mentari muncul kembali esok hari, saat itu perjuangan kembali dilakukan. Alasan untuk menyalahkan orang lain, menjadi dingin dalam hubungan sosial, ataupun bermalas2an bekerja justru menjauhkanku dari realisasi impian. Jadi : Dream, Do, Done.

New Day to School

Melihat si kecil mulai sekolah TK, menjadi hal yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Menyenangkan karena mengetahui usianya semakin brrtambah, semakin banyak pengetahuan dan pengalaman yang didapatnya. Menegangkan saat terbersit pikiran bagaimana dia menghadapu pengalaman sekolah yang baru?

Pengalaman sekolah yang baru adalah pelajaran juga, bukan?

Kini bertambah satu hobby di pagi hari : mengantar Ignas lalu mengintipnya dari jauh。